Kamis, 09 Agustus 2012

Jul 2012 SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH II (DI ANDALUSIA)

Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/san3la/2012/07/05/sejarah-peradaban-islam-pada-masa-bani-umayyah-ii-di-andalusia/

PENGANTAR


Untaian syukur Alhamdulillah patut penyusun haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Sejarah Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah II (di Andalusia)” ini. Segala kesulitan dan rintangan telah dilalui dengan bantuan-Nya.

Di kesempatan ini, penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Dalam makalah ini, penyusun akan menguraikan pembahasan tentang Sejarah Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah II di Andalusia. Jadi, penyusun memohon saran serta kritik kepada pembaca agar makalah ini mendekati kesempurnaan dan tidak mengulang kesalahan lagi.

Semoga makalah ini ada manfaatnya bagi pembaca dan penyusun khususnya. Amin.











Malang, 15 April 2012





Penyusun




DAFTAR ISI



COVER

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………. 2

A. Penaklukan Andalusia ………………………………………………………………… 2

B. Ihwal Pemerintahan ……………………………………………………………………. 3

C. Hubungan dengan Luar Negeri …………………………………………………….. 5

D. Komposisi Penduduk ………………………………………………………………….. 6

E. Perkembangan Bahasa dan Sastra Arab …………………………………………. 7

F. Pembangunan Kota …………………………………………………………………….. 10

G. Perkembangan Seni Musik …………………………………………………………… 11

H. Perkembangan Filsafat dan Ilmu Eksakta ……………………………………… 11

I. Perkembangan Ilmu Fikih dan Ilmu-Ilmu Islam Lainnya ………………….. 15

BAB III. KESIMPULAN …………………………………………………………………… 17

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………. 19

BIODATA PENYUSUN ……………………………………………………………………. 20
“Peradaban Islam Pada Masa Bani Umayyah II (di Andalusia)”


PENDAHULUAN

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan pada periode Islam klasik. Andalusia mencapai puncak keemasannya.Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pegaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, Andalusia juga dikatakan mampu menyaingi Baghdad yang ada di timur. Banyak orang Eropa mendalami studi di Universitas-Universitas Islam disana. Ketika itu bisa dikatakan, Islam telah menjadi guru bagi orang Eropa. Selama delapan abad, Islam pernah berjaya di bumi Eropa (Andalusia) dan membangun peradaban yang gemilang. Namun peradaban yang di bangun dengan susah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin sendiri dan karena keberhasilan Bangsa Barat atau Eropa bangkit dari keterbelakangan. Kebangkitan yang meliputi hampir semua element peradaban, terutama di bidang politik yakni dengan dikalahkannya kerjaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya sampai kemajuan di bidang sains dan teknologi.


PEMBAHASAN
Penaklukan dan Pemerintahan

Al Andalus berarti “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” dan merujuk pada wilayah yang diduduki oleh kerajaan Muslim di Spanyol Selatan yang meliputi kota-kota seperti Almeria, Malaga, Zadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada.

Andalusia terletak di benua Eropa barat daya dengan batas-batas ditimur dan tenggara adalah laut tengah, diselatan benmua Afrika yang terhlang oleh selat Gibraltar, dibarat samudra atlantik dan utara ole teluk Biscy. Pegunungan Pyneria ditimur laut membatasi Andalusia dengan Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islamm bagi daerah yang dikenal dengan senanjung Liberia (kurang lebih 93 % wilayah Spanyol, sisanya Portugal) dan Vadalusia. Sebutan ini berasal dari kata Vandalusia, yang berarti negeri bangsa vandal, karena bagian selatan semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir ke Afrika Utara oleh Bangsa Goth pada abad ke 5 M.
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu,dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyta kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka grap. Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat teritindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.

Penaklukan oleh pasukan atas Andalusia member dampak positif yang luar biasa. Andalusia dijadikan tempat ideal dan pusat pengembangan budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran, obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia, kepada bangsa Vandhal, Goth dan berber. Islam menegakkan keadilan yang belum dikenal sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya sendiri. Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa Muslim dan diberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap toleransi kaum muslim adalah perjanjian damai dengan pihak para penguasa yang telah ditaklukan. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang ditaklukkan itu ikut ambil abgian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para penguasa Muslim. Jadi Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan keyakinan. Saat ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan keadaan umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar dari pada belajar. Eropa sendiri di satu pihak diganggu oleh bangsa Berber Jerman. Sementara itu filsafat Yunani dan ilmu pengetahuan telah lama pindah tempat ke Syria dan Persia.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawha pimpinan Tarif bin Malik pada Ramadhan tahun 91 H/710 M. Ia dan pasukannya mendarat disebuah tempat yang diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil dan tariff kembali ke Afrika Utara membawa banyak ghanimah. Musa bin Nushair, Gubernur Jenderal Al Maghrib di Afrika Utara kala itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ekpsedisi kedua ini mendarat dibukit karang Gibraltar (Jabal At Thariq ) pada tahun 92 H/711 . Diatas bukit itu, Thariq berpidato untuk membangkitkan semngat juang pasukannya, karena tentara musuh yang akan dihadapi jumlahnya 100.000 orang. Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara sehingga total jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang.

Pertempuran pecah didekat muara sungai Salado (Lagend Janda) pada bulan Ramadhan 92 H/19 Juli 711. Pertempuran ini mengawali kemenangan Thariq dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, sampai akhirnya Toledo, ibukota Gothia Barat, dapat direbut pada bulan September tahun itu juga. Bulan Juni 712 M. Musa berangkat ke Andalusia membawa 18.000 orang tentara dan menyerang kota-kota yang belum ditaklukkan oleh Thariq sampai bulan Juni tahun berikutnya. Di kota kecil Talavera, Thariq menyerahkan kepemimpinan pada Musa. Pada saat itu pula Musa mengumumkan Andalusia menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penaklukan selanjutnya diarahkan ke kota-kota bagian utara hingga mencapai kaki pengunungan Pyrenia. Di balik pegunungan itu terbentang tanah Galia dibawah kekuasaan bangsa Prancis. Musa berambisi menaklukkan wilayah dibalik pegunungan itu, namun khalifah al walid tidak merestuinya bahkan ia memanggil Musa dan Thariq untuk pulang ke Damaskus. Sebelum berangkat Musa menyerahkan kekuasaan kepada Abd Al Aziz bin Musa. Abd Aziz berhasil menaklukkan Andalusia sudah jatuh ke tangan umat Islam, kecuali Galicia sebuah kawasan yang terjal dan tandus di bagian barat laut semenanjung itu.

Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai tahun 132 H/ 750 M. Selama periode tersebut, para gubernur Umawiyah di Andalusia berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran Poitiers didekat Tours pada tahun 114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan Abd Al – Rahman Al – Ghafiq di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam diutara pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika daulah Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin Muawiyah, cuvu khalifah Umawiyah kesepuluh hisyam bn Abd Malik, memproklamasikan propinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi itu. Andalusia memasuki babak baru sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah kekuasaan Bani Umayyah II yang beribukota di Codova sampai tahun 422 H/1031.

Sejak pertana kali menginjakkan kaki ditanah Andalusia hingga jatuhny kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat yang dilalui umat Islam di Andalusia dapat dibagi menjadi enam periode:
Periode Pertama (711 – 755 M)

Pada periode ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik Andalusia belum tercapai secara sempurna, gangguan – gangguan masih terjadi baik dari dalam maupu luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan, terutama antara Basbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Ara Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkna konflik politik, terutama ketika tidak ada figus penguasa yang tangguh. Itulah sebabnya di Andalusia pada saat itu, tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasannya dalam jangka eaktu yang agak lama.
Gangguan dari luar dari sisa-sisa musuh lama di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Karena seringnya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd AL Rahman Al Dakhil pada tahun 138 H/755 M.
Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, Andalusia berada di bawah pemerintahan amir, tetapi tumduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh khalifah abbasiyah di Baghdad. Penguasa Andalusia pada periode ini adalah Abd Al Rahman Al Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al Rahman Al Ausath, Muhammad bin Abd Al Rahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad.

Mengenai Ad Dakhil, diceritakan sewaktu dinasti bani umayyah tumbang oleh dinasti abbasiyah terjadi pembunuhan massal dan pengejaran terhadap sisa-sisa keluarga Umayah. Ia melarikan diri menyusuri Afrika Utara hingga tiba di Meknes. Maroko dan pindah ke Melilla, dekat Ceuta di pesisir laut tangah menghadap semenanjung Liberia. Inilah buat pertama kalinya seorang pangeran Bani Umayyah masuk ke Andalusia, sehingga ia mendapat gelar Ad Dakhil. Setelah melumpuhkan penguasa Andalusia, Yusuf bin Abd Ar Rahman, ia akhirnya berkuasa disana.

Pada periode ini, Andalusia mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang perdaban. Abd Al Rahman Al Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah dikota-kota besar. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan Hukum dikenal sebagai pembaharu dalam bidang militer. Dialah yang memprakasai tentara bayaran di Andalusia. Sedang Abd Al Rahman Al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.

Para periode ini, berbagai ancaman dan kerusakan terjadi. Pada pertengahan abad ke 9 M. Stabilitas munculnya gerakan Kristen fanatic yang mencari kesyahidan (Martydom). Tetapi gerakan ini tidak mendapat simpati dikalangan intern Kristen sendiri, karena pemerintahan Islam kala itu mengembangkan kebebasan beragama. Peribadatan tidak dihilangi, bahkan mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerinthan atau emnajdi karyawan pada intansi militer. Gangguan politik paling serius dating dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota dan bertahan sampai 80 tahun. Disamping itu, sejumlah orang yang tidak puas terhadap penguasa melancarkan revolusi, yang terpenting diantaranya pemberontakan Hafshun dan anaknya yang berpusat dipegunungan dekat Malaga.
Periode Ketiga (912-1013 M)

Pada periode ini, Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar ini berawal dari berita bahwa al muktadir. Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Maka Abdurrahman III menilai bahwa keadaan ini menunjukkan suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan moment yang paling tepat untuk mmakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Maka dari itu, gelar khalifah ini mulai dipakai sejak tahun 929 M Khalifah besar yang memerintah pada periode ini yaitu Abd Al Rahman Al Nasir (912-916 M), Hakam II (961-976M) dan Hisyam II (976-1009M).

Pada periode ini, Andalusia mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi Baghdad di timur. Al Nashir mendirikan universitas di cordova yang perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga juga seoreang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Periode ke empat ( 1013 – 1086)

Pada periode ini Andalusia terpecah menjadi lebih 20 kerajaan kecil. Masa ini disebut Muluk al – Thawaif (Raja Golongan ) mereka mendirikan kerajaan berdasarkan etnis Barbar. Slovia ata u Andalus yang bertikai satu sama lain sehingga menimbulka keberania umat Kristen di utara untuk menyerang. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, para pihak yangbertikai sering meminta bantuan kepada raja – raja Kristen. Periode ini meskipun terjadi ketidakstabilan tetapi dalam bidang peradaban mengalami kemajuan karena masing – masing ibu kota kerajaan local ingin menyaingi Cordova sehingga muncullah kota –kota besar seperti Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada.
Periode ke lima ( 1086 – 1248)

Pada periode ini meskipun Andalusia terpecah – pecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yakni dinasti Murabhitun (1086-1143) dan dinasti Muwahidun (1146-1235 M). murabhitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasytin di afrika utara. Ia masuk ke Andalusia atas undangan penguasa islam disana yang tengah menikul beban berat perjuangan mempertahankan negri dari serangan orang Kristen. Ia dan tentaranya masuk Andalusia pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan castilia. Karena perpecahan dikalangan raja- raja muslim, yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Andalusia dan berhasil. Tetapi sepenggantinya adalah raja – raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir baik di afrika utara maupun Andalusia sendiri.

Sepeninggal murabhitun, muncul-muncul dinasti kecil, tapi berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M, dinasti muwahidun di afrika utara yang didirikan oleh mehammad bin tumart. Dinasti ini datang ke Andalusia dibawah pimpinan abd al mun’im. Antara tahun 1114 dan 1115 M, kota-kota muslim penting di Andalusia seperti cordova. Almeria dan cannada jatuh di bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa decade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan – kekuatan Kristen dapat dipukul mundur akan tetapi, tidak lama setelah itu Muwahhidun mengalami keambrukan. Tentara Kristen, pada tahun 1212 M, mendapat kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan – kekalahan yang dialami oleh Muwahhidun memaksa penguasanya keluar dari Andalusia dan kembali ke afrika utara pada tahun 1235 M. Tahun 1238 M cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh di tahun 1248 M. Seluruh Andalusia kecuali Granada lepas dari kekuasaan islam.
Periode ke enam (1248 – 1492)

Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada. Di bawah dinasti bani ahmar (1232-1492 M) yang didrikan oleh Muhammad bin Yusuf bin Nasr bin al-Ahmar. Peradaban mengalami kemajuan tetapi hanya berkuasa di wilayah yang kecil seperti pada masa kekuasaan Abdurrahman an –Nashir. Namun pada decade terkhir abad 14 M, dinasti ini telah lemah akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan olen kerajaan Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antar Esabella dan Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama – sama merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 menguasai Almeria tahun 1492 menguasai Granada. Raja terakhir Granada, Abu Abdullah, melarikan diri ke afrika utara.

Pada akhir abad ke 14 M pihak Kristen sangat antusias untuk mengkristenkan pemeluk yahudi dan muslim. Pada 1391 yahudi dipaksa menerima Baptisme tahun 1478 program pemaksaan agama diresmikan dan memerintahkan yahudi untuk memilih baptisme atau pengusiran. Tahun 1492 nyaris seluruh pemeluk yahudi diusir dari Andalusia.

Gerakan reconquisa terus berlanjut. Tahun 1499, kerajaan Kristen Granada melakukan pemaksaan orang islam untuk menganut Kristen dan buku – buku tentang islam di bakar. Tahun 1502 kerajaan Kristen ini mengeluarkan perintah supaya orang islam Granada keluar dari negri ini kalau tidak mau menjadi Kristen. Umat islam harus memilih antara masuk Kristen atau keluar dari andalus sebagai orang terusir. Maka banyak orang islam yang menyembunyikan keislamannya dan melahirkan kekristenannya. Timbul pula pembrontakan – pembrontakan. Pada tahun 1596, muslim Granada membrontak dibantu oleh kerajaan usmaniyah. Antara tahun 1609-1614 M kira-kira sekitar setengah juta kaum muslimin Andalusia pindah ke afrika utara. Ini merupakan perpindahan terakhir umat islam Andalusia. Sejak saat itu tak ada lagi umat islam di Andalusia.


Kemajuan peradaban
Di bidang Ilmu Pengetahuan

Pemisahan Andalusia dari bagdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transisi keilmuwan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim Andalusia yang menuntut ilmu di negri islam belahan timur dan tidak sedikit pula ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia.

Prestasi umat islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan, melainkan dengan kerja keras melauli beberapa tahapan system pengembangan. Mula – mula dilakukan beberapa penerjemah kitab – kitab klasik yunani, romawi, india , Persia. Kemudian dilakukan pensyarahan dan komentar terhadap terjemahan tersebut, sehingga lahir komentator-komentator muslim kenamaan. Setelah itu dilakukan koreksi teori – teori yang sudah ada, yang acap kali melahirkan teori baru sebagai hasil renungan pemikir – pemikir muslim sendiri. Oleh karena itu, umat islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan budaya lama dari zama klasik ke zaman baru. Terlalu banyak teori orisinil temuan mereka yang besar sekali artinya sebagai dasar ilmu pengetahuan modern.

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak terlepas kaintannya dari kerjasam yang harmonis antara penguaa, hartawan dan ulam. Umat islam di Negara – Negara islam waktu itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaaan umumnya, merupakan salah satu kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan – perpustakaan, disamping mendirikan lembaga – lembaga pendidikan.

Sekolah dan perpustakaan umum maupun pribadi banyak dibangun diberbagai penjuru kerajaan, sejak dari kot besar sampai ke desa-desa.
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak ada seorangpun penduduknya yang but huruf. Dalam pada itu, eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertam ilmu pengetahuan, itupun tebatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke Negara-negara eropa Kristen, melalai kelompok – kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di universitas Cordova, Malaga, Granada, sevilla atau lembaga – lembaga ilmu pengetahuan lainnya Andalusia. Yang pada gilirannya kelak akan mengantarkan eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Bidang – bidang ilmu pengetahuan yang paling menonjol antara lain:

a) Filsafat

Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid, tokoh kedua adalah Abu Bakr bin Thufail yang banyak menulis masalh kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang filsafat di Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova. Ia menafsirkan maskah – naskah aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang keserasian filsafat agama.

b) Sains

Ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi dan kimia berkembang dengan baik di Andalusia. Ibarhim bin yahya al Naqqash terkenal dalam ilmuastronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan berhasil membuat teropong yang dapat menentukan jarak tata surya dan bintang. Ahmad bin abbas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat – obatan. Umm al-hassan bint abi ja’far dan saudara perempuan al hafidz adalah dua orang dokter dari kalangan wanita.

Di bidang sejarah dan geografi, muncul ibnu jubair yang menulis negeri–negeri muslim mediterania dan ibnu batutah yang mengadakan ekspedisi hingga mencapai samudra pasai dan cina. Ibnu al-khatib menyusun riwayat Granada sedang Ibnu khaldun dari tunis adalah perumus filasafat sejarah.

c) Fiqh

Andalusia mayoritas menganut madhzab maliki, yang pertama kali diperkenalkan oleh ziyyad bin abd al-rahman. Ahli – ahli fiqih lainnya diantaranya adalah ibnu yahya, seorang qadhi, kemudian abu bakar al quthiyah, munzir bin sa,if al-baluthi dan ibnu hazim yang terkenal.

d) Musik dan Kesenian

Dibidang ini dikenal seorang tokoh bernama Hasan bin Nafi yang berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu dan sering mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga kemasyhurannya makin meluas.

e) Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan islam di Andalusia. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan penduduk asli Andalusia menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab baik ketrampilan bahasa maupun tata bahasa Tokohnya antara lain : Ibnu Sayyidh, Ibn Malik pengarang alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan al-Gharmatti dan muncul banyak karya sastra seperti al-iqd al-farid karya ibn abd rabbib, al-Dzakhirah fii Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam dan kitab al-Qalaid karya al-Fath bin Khaqan.


Di bidang pembanguna fisik

Samah bin Malik menjadikan cordova sebagai ibu kota propinsi Andalusia menggantikan sevilla pada tahun 100H/719M. Ia membangun tembok dinding kota, memugar jembatan tua yang dibangun penguasa romawi dan membangun kisaran air. Ketika ad-Dakhil berkuasa, cordova diperindah serta dibangun benteng di sekeliling kota dan istana. Air danau dialirkan melalui pipa-pipa ke istana dan rumah penduduk. Kebanggan cordova lainnya adalah al-Qashr al-Kabir, alRushafa, masjid jami’ cordova, jembatan cordova, al-Zahra dan al-Zahirah
Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa penggantinya. Didalamnya dibangun 430 gedung yang diantaranya merupakan istana – istana megah. Al-Rushafa adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun ad-Dakhil yang masih tgak berdiri hingga sekarang adalah masjid jami’ cordova didirikan tahun 170H/786M dengan dana 80.000 dinar.

Masjid ini memiliki sebuah menara yang tingginua 20 meter terbuat dari marmer dan sebuah kubah besar yang didukung oleh 300 buah pilar yang terbuat dari marmer pula. Ditengah masjid terdapat tiang agung yang menyangga 1000 lentera. Ada Sembilan buah pintu yang dimiliki masjid ini, semuanya terbuat dari tembaga kecuali pintu maqsurah yang terbuat dari emas murni. Ketika cordova jatuh ke tangan Fernando III pada tahun 1236, masjid ini dijadikan gereja dengan nama santa maria, tetapi dikalangan orang Andalusia lebih popular dengan ia mezquita, berasal dari bahasa arab al-Masjid.

Al-Nashir pada tahun 325 H/ 936 M membangun kota satelit dengan nama salah seorang selirnya al-Zahra. Kemegahannya hamper menyamai al-Qashr al-Kabir. Ia dilengkapi taman indah yang disela-selanya mengalir air dari gunung, danau kecil berisi ikan beraneka warna dan sebuah taman margasatwa. Sementara pada tahun 368 H / 978 M Al Manshur membangun kota Al Zairah dipinggir Wadi Al Kabir, tidak jauh dari Cordova. Al Zahirah dilengkapi dengan taman – taman indah, pasar, toko , masjid dan bangunan umum lainnya.


Analisis Kemajuan Peradaban Andalusia

Salah Satu mengapa Andalusia mengalami kemajuan pesat di dalam peradabannya menurut penulis salah satunya disebabkan policy dari para penguasanya yang mempelopori berbagai kegiatan ilmiah. Meskipun ada ketegangan politik dengan Baghdad timur tapi tidak selalu terjadi konfrontasi militer. Banyak para sarjana Islam dari wilayah Barat menimpa ilmu di Timur dengan membawa bukum teori dan gagasan pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Jadi meskipun umat islam terpecah secara politik tapi tetap dalam bingkai kesatuan budaya dunia Islam. Perpecahan politik pada periode Al Muluk Al Thawa’if tidak menyebabkan mundurnya ilmu pengetahuan dan peradaban, bahkan setiap penguasa di negeri-negeri kecil tersebut saling berkompetensi dalam ilmu pengetahuan terutama usaha untuk menyaingi Cordova.

Sedang aspek kehancuran Andalusia dari berbagai literature menurut penulis disebarkan karena adanya konflik dengan Kristen. Islami yang terjadi kurang sempurna. Kerajaan – kerajaan Kristen taklukan asal tidak melakukan perlawanan militer dibiarkan mempertahankan hukum dan adat mereka, yang pada gilirannya akan menciptakan kubu komunitas berbeda antara Arab Islam dengan Andalusia Kristen yang memicu adanya nasionalisasi. Pada periode kemunduran Islam, kerajaan-kerajaan Kristen ini akhirnya dapat menghimpun kekuatan untuk mengenyahkan Islam dari Andalusia tertama karena kondisi Andalusia yang yang terpencil secara militer, sehingga sulit mendapat bantuan militer kecuali hanya dari Afrika Utara.

Faktor krusial lainnya didalam intern umat Islam telah terdapat perpecahan. Terutama masalah yang berkaitan dengan etnis dan sosial. Sering dijumpai konflik antara komunitas Arab Utara dan Arab Selatan, antara Barbar dengan arab Selatan, antara Barbar dengan Arab serta problem naturalisasi bagi para mukallaf, yang masih dipandang sebelah mata, terutama dengan pemberian term ibad dan muwalladun yang bertedetensi merendahkan. Yang paling fatal lagi adalah tidak adanya mekanisme yang jelas dalam suksesi kepemimpinan. Sehingga sering menimbulkan gejolak politik yang melemahkan Negara.

Dari aspek pengaruh peradaban Andalusia terhadap kebangkitan Eropa (renaissance) adalah dipicu dengan banyaknya kaum terpelajar Eropa yang belajar di pusat-pusat studi di Andalusia sehingga menyerap berbagai gagasan dan pola pemikiran berbagai tokoh pengetahuan seperti Ibnu Rusyd serta berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui terjemahan Arab yang dipelajari, yang kemudian di konversi ke bahasa latin. Yang pada akhirnya mempercepat terjadinya proses reformasi, rasionalisasi hingga pada fase pencerahan di Eropa.


PENUTUP

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad 10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada pertengahan abad ke 12 M , tibalah saatnya masa keruntuhan Islam.

1. http://www.hispanicmuslims.com/andalusia.html
2. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, Cet. Ke 1 , 2007, hlm .227-228
3. Ibid, hlm. 228
4. Ibid,hlm.233-235.
5. P.M.Holt (ed), The Cambridge History Of Islam, Cambridge: Press Syndicate Of The University Of Cambridge, 1970, hlm.406.
6. Ali Shodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004, hlm.79-80.
7. Ibid
8. Ibid, hlm.80 – 81
9. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. ke-1, 1993, hlm.93.
10. Ibid,hlm.94
11. Joesoe Souyb, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997, hlm.9.
12. Badri Yatim, op cit, hlm.95-96
13. Ibid, hlm.96.
14. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004, hlm.120.
15. Badri Yatim, op cit, hlm.99.
16. L,P Harvey, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo Press,1990, hlm.20.
17. Musyrifah Sunanto, op cit, hlm. 122-123.
18. Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999,hlm.598.
19. Ibid
20. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.95-96.
21. Badri Yatim, op cit, hlm.101-103.
22. Philip K Hitti, History Of Arabs, London : MacMillan and Co Ltd,Cet. Ke 10, 1970, hlm.567.
23. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.84-87.

DAFTAR PUSTAKA
Bullet, Ricard W, Conversion to Islam In The Medieval Period, Massachusetts : President and Fellow Of Harvard College, 1979.
Harvey, L,P, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo,1990.
Hitti, Philip K, History Of Arabs, London : Mac Millan and co LTD,Cet. Ke 10, 1970.
Holt,P.M dkk (ed), The Cambridge History Of Islam, New York : Cambridge University Press, 1970.
Karim, Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, CetKe 1 , 2007.
Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999.
Shodiqin, Ali dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004.
Souyb, Joesoe, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997.
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. Nke-1, 2006.

http://amirulbahri.wordpress.com/2011/08/16/peradaban-islam-masa-bani-umayyah-ii-di-andalusia/

Jul 2012 SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH II (DI ANDALUSIA)

Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/san3la/2012/07/05/sejarah-peradaban-islam-pada-masa-bani-umayyah-ii-di-andalusia/

PENGANTAR


Untaian syukur Alhamdulillah patut penyusun haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Sejarah Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah II (di Andalusia)” ini. Segala kesulitan dan rintangan telah dilalui dengan bantuan-Nya.

Di kesempatan ini, penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Dalam makalah ini, penyusun akan menguraikan pembahasan tentang Sejarah Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah II di Andalusia. Jadi, penyusun memohon saran serta kritik kepada pembaca agar makalah ini mendekati kesempurnaan dan tidak mengulang kesalahan lagi.

Semoga makalah ini ada manfaatnya bagi pembaca dan penyusun khususnya. Amin.











Malang, 15 April 2012





Penyusun




DAFTAR ISI



COVER

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………. 2

A. Penaklukan Andalusia ………………………………………………………………… 2

B. Ihwal Pemerintahan ……………………………………………………………………. 3

C. Hubungan dengan Luar Negeri …………………………………………………….. 5

D. Komposisi Penduduk ………………………………………………………………….. 6

E. Perkembangan Bahasa dan Sastra Arab …………………………………………. 7

F. Pembangunan Kota …………………………………………………………………….. 10

G. Perkembangan Seni Musik …………………………………………………………… 11

H. Perkembangan Filsafat dan Ilmu Eksakta ……………………………………… 11

I. Perkembangan Ilmu Fikih dan Ilmu-Ilmu Islam Lainnya ………………….. 15

BAB III. KESIMPULAN …………………………………………………………………… 17

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………. 19

BIODATA PENYUSUN ……………………………………………………………………. 20
“Peradaban Islam Pada Masa Bani Umayyah II (di Andalusia)”


PENDAHULUAN

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan pada periode Islam klasik. Andalusia mencapai puncak keemasannya.Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pegaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, Andalusia juga dikatakan mampu menyaingi Baghdad yang ada di timur. Banyak orang Eropa mendalami studi di Universitas-Universitas Islam disana. Ketika itu bisa dikatakan, Islam telah menjadi guru bagi orang Eropa. Selama delapan abad, Islam pernah berjaya di bumi Eropa (Andalusia) dan membangun peradaban yang gemilang. Namun peradaban yang di bangun dengan susah payah dan kerja keras kaum Muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin sendiri dan karena keberhasilan Bangsa Barat atau Eropa bangkit dari keterbelakangan. Kebangkitan yang meliputi hampir semua element peradaban, terutama di bidang politik yakni dengan dikalahkannya kerjaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya sampai kemajuan di bidang sains dan teknologi.


PEMBAHASAN
Penaklukan dan Pemerintahan

Al Andalus berarti “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” dan merujuk pada wilayah yang diduduki oleh kerajaan Muslim di Spanyol Selatan yang meliputi kota-kota seperti Almeria, Malaga, Zadiz, Huelva, Seville, Cordoba, Jaen dan Granada.

Andalusia terletak di benua Eropa barat daya dengan batas-batas ditimur dan tenggara adalah laut tengah, diselatan benmua Afrika yang terhlang oleh selat Gibraltar, dibarat samudra atlantik dan utara ole teluk Biscy. Pegunungan Pyneria ditimur laut membatasi Andalusia dengan Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islamm bagi daerah yang dikenal dengan senanjung Liberia (kurang lebih 93 % wilayah Spanyol, sisanya Portugal) dan Vadalusia. Sebutan ini berasal dari kata Vandalusia, yang berarti negeri bangsa vandal, karena bagian selatan semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir ke Afrika Utara oleh Bangsa Goth pada abad ke 5 M.
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu,dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyta kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka grap. Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat teritindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.

Penaklukan oleh pasukan atas Andalusia member dampak positif yang luar biasa. Andalusia dijadikan tempat ideal dan pusat pengembangan budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran, obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia, kepada bangsa Vandhal, Goth dan berber. Islam menegakkan keadilan yang belum dikenal sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya sendiri. Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa Muslim dan diberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap toleransi kaum muslim adalah perjanjian damai dengan pihak para penguasa yang telah ditaklukan. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang ditaklukkan itu ikut ambil abgian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para penguasa Muslim. Jadi Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan keyakinan. Saat ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan keadaan umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar dari pada belajar. Eropa sendiri di satu pihak diganggu oleh bangsa Berber Jerman. Sementara itu filsafat Yunani dan ilmu pengetahuan telah lama pindah tempat ke Syria dan Persia.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawha pimpinan Tarif bin Malik pada Ramadhan tahun 91 H/710 M. Ia dan pasukannya mendarat disebuah tempat yang diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil dan tariff kembali ke Afrika Utara membawa banyak ghanimah. Musa bin Nushair, Gubernur Jenderal Al Maghrib di Afrika Utara kala itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ekpsedisi kedua ini mendarat dibukit karang Gibraltar (Jabal At Thariq ) pada tahun 92 H/711 . Diatas bukit itu, Thariq berpidato untuk membangkitkan semngat juang pasukannya, karena tentara musuh yang akan dihadapi jumlahnya 100.000 orang. Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara sehingga total jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang.

Pertempuran pecah didekat muara sungai Salado (Lagend Janda) pada bulan Ramadhan 92 H/19 Juli 711. Pertempuran ini mengawali kemenangan Thariq dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, sampai akhirnya Toledo, ibukota Gothia Barat, dapat direbut pada bulan September tahun itu juga. Bulan Juni 712 M. Musa berangkat ke Andalusia membawa 18.000 orang tentara dan menyerang kota-kota yang belum ditaklukkan oleh Thariq sampai bulan Juni tahun berikutnya. Di kota kecil Talavera, Thariq menyerahkan kepemimpinan pada Musa. Pada saat itu pula Musa mengumumkan Andalusia menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penaklukan selanjutnya diarahkan ke kota-kota bagian utara hingga mencapai kaki pengunungan Pyrenia. Di balik pegunungan itu terbentang tanah Galia dibawah kekuasaan bangsa Prancis. Musa berambisi menaklukkan wilayah dibalik pegunungan itu, namun khalifah al walid tidak merestuinya bahkan ia memanggil Musa dan Thariq untuk pulang ke Damaskus. Sebelum berangkat Musa menyerahkan kekuasaan kepada Abd Al Aziz bin Musa. Abd Aziz berhasil menaklukkan Andalusia sudah jatuh ke tangan umat Islam, kecuali Galicia sebuah kawasan yang terjal dan tandus di bagian barat laut semenanjung itu.

Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai tahun 132 H/ 750 M. Selama periode tersebut, para gubernur Umawiyah di Andalusia berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran Poitiers didekat Tours pada tahun 114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan Abd Al – Rahman Al – Ghafiq di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam diutara pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika daulah Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin Muawiyah, cuvu khalifah Umawiyah kesepuluh hisyam bn Abd Malik, memproklamasikan propinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi itu. Andalusia memasuki babak baru sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah kekuasaan Bani Umayyah II yang beribukota di Codova sampai tahun 422 H/1031.

Sejak pertana kali menginjakkan kaki ditanah Andalusia hingga jatuhny kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat yang dilalui umat Islam di Andalusia dapat dibagi menjadi enam periode:
Periode Pertama (711 – 755 M)

Pada periode ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik Andalusia belum tercapai secara sempurna, gangguan – gangguan masih terjadi baik dari dalam maupu luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan, terutama antara Basbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Ara Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkna konflik politik, terutama ketika tidak ada figus penguasa yang tangguh. Itulah sebabnya di Andalusia pada saat itu, tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasannya dalam jangka eaktu yang agak lama.
Gangguan dari luar dari sisa-sisa musuh lama di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Karena seringnya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd AL Rahman Al Dakhil pada tahun 138 H/755 M.
Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, Andalusia berada di bawah pemerintahan amir, tetapi tumduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh khalifah abbasiyah di Baghdad. Penguasa Andalusia pada periode ini adalah Abd Al Rahman Al Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al Rahman Al Ausath, Muhammad bin Abd Al Rahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad.

Mengenai Ad Dakhil, diceritakan sewaktu dinasti bani umayyah tumbang oleh dinasti abbasiyah terjadi pembunuhan massal dan pengejaran terhadap sisa-sisa keluarga Umayah. Ia melarikan diri menyusuri Afrika Utara hingga tiba di Meknes. Maroko dan pindah ke Melilla, dekat Ceuta di pesisir laut tangah menghadap semenanjung Liberia. Inilah buat pertama kalinya seorang pangeran Bani Umayyah masuk ke Andalusia, sehingga ia mendapat gelar Ad Dakhil. Setelah melumpuhkan penguasa Andalusia, Yusuf bin Abd Ar Rahman, ia akhirnya berkuasa disana.

Pada periode ini, Andalusia mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang perdaban. Abd Al Rahman Al Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah dikota-kota besar. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan Hukum dikenal sebagai pembaharu dalam bidang militer. Dialah yang memprakasai tentara bayaran di Andalusia. Sedang Abd Al Rahman Al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.

Para periode ini, berbagai ancaman dan kerusakan terjadi. Pada pertengahan abad ke 9 M. Stabilitas munculnya gerakan Kristen fanatic yang mencari kesyahidan (Martydom). Tetapi gerakan ini tidak mendapat simpati dikalangan intern Kristen sendiri, karena pemerintahan Islam kala itu mengembangkan kebebasan beragama. Peribadatan tidak dihilangi, bahkan mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerinthan atau emnajdi karyawan pada intansi militer. Gangguan politik paling serius dating dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota dan bertahan sampai 80 tahun. Disamping itu, sejumlah orang yang tidak puas terhadap penguasa melancarkan revolusi, yang terpenting diantaranya pemberontakan Hafshun dan anaknya yang berpusat dipegunungan dekat Malaga.
Periode Ketiga (912-1013 M)

Pada periode ini, Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar ini berawal dari berita bahwa al muktadir. Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Maka Abdurrahman III menilai bahwa keadaan ini menunjukkan suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan moment yang paling tepat untuk mmakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Maka dari itu, gelar khalifah ini mulai dipakai sejak tahun 929 M Khalifah besar yang memerintah pada periode ini yaitu Abd Al Rahman Al Nasir (912-916 M), Hakam II (961-976M) dan Hisyam II (976-1009M).

Pada periode ini, Andalusia mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi Baghdad di timur. Al Nashir mendirikan universitas di cordova yang perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga juga seoreang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Periode ke empat ( 1013 – 1086)

Pada periode ini Andalusia terpecah menjadi lebih 20 kerajaan kecil. Masa ini disebut Muluk al – Thawaif (Raja Golongan ) mereka mendirikan kerajaan berdasarkan etnis Barbar. Slovia ata u Andalus yang bertikai satu sama lain sehingga menimbulka keberania umat Kristen di utara untuk menyerang. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, para pihak yangbertikai sering meminta bantuan kepada raja – raja Kristen. Periode ini meskipun terjadi ketidakstabilan tetapi dalam bidang peradaban mengalami kemajuan karena masing – masing ibu kota kerajaan local ingin menyaingi Cordova sehingga muncullah kota –kota besar seperti Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada.
Periode ke lima ( 1086 – 1248)

Pada periode ini meskipun Andalusia terpecah – pecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yakni dinasti Murabhitun (1086-1143) dan dinasti Muwahidun (1146-1235 M). murabhitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasytin di afrika utara. Ia masuk ke Andalusia atas undangan penguasa islam disana yang tengah menikul beban berat perjuangan mempertahankan negri dari serangan orang Kristen. Ia dan tentaranya masuk Andalusia pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan castilia. Karena perpecahan dikalangan raja- raja muslim, yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Andalusia dan berhasil. Tetapi sepenggantinya adalah raja – raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir baik di afrika utara maupun Andalusia sendiri.

Sepeninggal murabhitun, muncul-muncul dinasti kecil, tapi berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M, dinasti muwahidun di afrika utara yang didirikan oleh mehammad bin tumart. Dinasti ini datang ke Andalusia dibawah pimpinan abd al mun’im. Antara tahun 1114 dan 1115 M, kota-kota muslim penting di Andalusia seperti cordova. Almeria dan cannada jatuh di bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa decade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan – kekuatan Kristen dapat dipukul mundur akan tetapi, tidak lama setelah itu Muwahhidun mengalami keambrukan. Tentara Kristen, pada tahun 1212 M, mendapat kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan – kekalahan yang dialami oleh Muwahhidun memaksa penguasanya keluar dari Andalusia dan kembali ke afrika utara pada tahun 1235 M. Tahun 1238 M cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh di tahun 1248 M. Seluruh Andalusia kecuali Granada lepas dari kekuasaan islam.
Periode ke enam (1248 – 1492)

Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada. Di bawah dinasti bani ahmar (1232-1492 M) yang didrikan oleh Muhammad bin Yusuf bin Nasr bin al-Ahmar. Peradaban mengalami kemajuan tetapi hanya berkuasa di wilayah yang kecil seperti pada masa kekuasaan Abdurrahman an –Nashir. Namun pada decade terkhir abad 14 M, dinasti ini telah lemah akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan olen kerajaan Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antar Esabella dan Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama – sama merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 menguasai Almeria tahun 1492 menguasai Granada. Raja terakhir Granada, Abu Abdullah, melarikan diri ke afrika utara.

Pada akhir abad ke 14 M pihak Kristen sangat antusias untuk mengkristenkan pemeluk yahudi dan muslim. Pada 1391 yahudi dipaksa menerima Baptisme tahun 1478 program pemaksaan agama diresmikan dan memerintahkan yahudi untuk memilih baptisme atau pengusiran. Tahun 1492 nyaris seluruh pemeluk yahudi diusir dari Andalusia.

Gerakan reconquisa terus berlanjut. Tahun 1499, kerajaan Kristen Granada melakukan pemaksaan orang islam untuk menganut Kristen dan buku – buku tentang islam di bakar. Tahun 1502 kerajaan Kristen ini mengeluarkan perintah supaya orang islam Granada keluar dari negri ini kalau tidak mau menjadi Kristen. Umat islam harus memilih antara masuk Kristen atau keluar dari andalus sebagai orang terusir. Maka banyak orang islam yang menyembunyikan keislamannya dan melahirkan kekristenannya. Timbul pula pembrontakan – pembrontakan. Pada tahun 1596, muslim Granada membrontak dibantu oleh kerajaan usmaniyah. Antara tahun 1609-1614 M kira-kira sekitar setengah juta kaum muslimin Andalusia pindah ke afrika utara. Ini merupakan perpindahan terakhir umat islam Andalusia. Sejak saat itu tak ada lagi umat islam di Andalusia.


Kemajuan peradaban
Di bidang Ilmu Pengetahuan

Pemisahan Andalusia dari bagdad secara politis, tidak berpengaruh terhadap transisi keilmuwan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim Andalusia yang menuntut ilmu di negri islam belahan timur dan tidak sedikit pula ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia.

Prestasi umat islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan, melainkan dengan kerja keras melauli beberapa tahapan system pengembangan. Mula – mula dilakukan beberapa penerjemah kitab – kitab klasik yunani, romawi, india , Persia. Kemudian dilakukan pensyarahan dan komentar terhadap terjemahan tersebut, sehingga lahir komentator-komentator muslim kenamaan. Setelah itu dilakukan koreksi teori – teori yang sudah ada, yang acap kali melahirkan teori baru sebagai hasil renungan pemikir – pemikir muslim sendiri. Oleh karena itu, umat islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan budaya lama dari zama klasik ke zaman baru. Terlalu banyak teori orisinil temuan mereka yang besar sekali artinya sebagai dasar ilmu pengetahuan modern.

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak terlepas kaintannya dari kerjasam yang harmonis antara penguaa, hartawan dan ulam. Umat islam di Negara – Negara islam waktu itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaaan umumnya, merupakan salah satu kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan – perpustakaan, disamping mendirikan lembaga – lembaga pendidikan.

Sekolah dan perpustakaan umum maupun pribadi banyak dibangun diberbagai penjuru kerajaan, sejak dari kot besar sampai ke desa-desa.
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak ada seorangpun penduduknya yang but huruf. Dalam pada itu, eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertam ilmu pengetahuan, itupun tebatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke Negara-negara eropa Kristen, melalai kelompok – kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di universitas Cordova, Malaga, Granada, sevilla atau lembaga – lembaga ilmu pengetahuan lainnya Andalusia. Yang pada gilirannya kelak akan mengantarkan eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Bidang – bidang ilmu pengetahuan yang paling menonjol antara lain:

a) Filsafat

Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid, tokoh kedua adalah Abu Bakr bin Thufail yang banyak menulis masalh kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang filsafat di Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova. Ia menafsirkan maskah – naskah aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang keserasian filsafat agama.

b) Sains

Ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi dan kimia berkembang dengan baik di Andalusia. Ibarhim bin yahya al Naqqash terkenal dalam ilmuastronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan berhasil membuat teropong yang dapat menentukan jarak tata surya dan bintang. Ahmad bin abbas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat – obatan. Umm al-hassan bint abi ja’far dan saudara perempuan al hafidz adalah dua orang dokter dari kalangan wanita.

Di bidang sejarah dan geografi, muncul ibnu jubair yang menulis negeri–negeri muslim mediterania dan ibnu batutah yang mengadakan ekspedisi hingga mencapai samudra pasai dan cina. Ibnu al-khatib menyusun riwayat Granada sedang Ibnu khaldun dari tunis adalah perumus filasafat sejarah.

c) Fiqh

Andalusia mayoritas menganut madhzab maliki, yang pertama kali diperkenalkan oleh ziyyad bin abd al-rahman. Ahli – ahli fiqih lainnya diantaranya adalah ibnu yahya, seorang qadhi, kemudian abu bakar al quthiyah, munzir bin sa,if al-baluthi dan ibnu hazim yang terkenal.

d) Musik dan Kesenian

Dibidang ini dikenal seorang tokoh bernama Hasan bin Nafi yang berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu dan sering mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga kemasyhurannya makin meluas.

e) Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan islam di Andalusia. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan penduduk asli Andalusia menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab baik ketrampilan bahasa maupun tata bahasa Tokohnya antara lain : Ibnu Sayyidh, Ibn Malik pengarang alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan al-Gharmatti dan muncul banyak karya sastra seperti al-iqd al-farid karya ibn abd rabbib, al-Dzakhirah fii Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam dan kitab al-Qalaid karya al-Fath bin Khaqan.


Di bidang pembanguna fisik

Samah bin Malik menjadikan cordova sebagai ibu kota propinsi Andalusia menggantikan sevilla pada tahun 100H/719M. Ia membangun tembok dinding kota, memugar jembatan tua yang dibangun penguasa romawi dan membangun kisaran air. Ketika ad-Dakhil berkuasa, cordova diperindah serta dibangun benteng di sekeliling kota dan istana. Air danau dialirkan melalui pipa-pipa ke istana dan rumah penduduk. Kebanggan cordova lainnya adalah al-Qashr al-Kabir, alRushafa, masjid jami’ cordova, jembatan cordova, al-Zahra dan al-Zahirah
Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa penggantinya. Didalamnya dibangun 430 gedung yang diantaranya merupakan istana – istana megah. Al-Rushafa adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun ad-Dakhil yang masih tgak berdiri hingga sekarang adalah masjid jami’ cordova didirikan tahun 170H/786M dengan dana 80.000 dinar.

Masjid ini memiliki sebuah menara yang tingginua 20 meter terbuat dari marmer dan sebuah kubah besar yang didukung oleh 300 buah pilar yang terbuat dari marmer pula. Ditengah masjid terdapat tiang agung yang menyangga 1000 lentera. Ada Sembilan buah pintu yang dimiliki masjid ini, semuanya terbuat dari tembaga kecuali pintu maqsurah yang terbuat dari emas murni. Ketika cordova jatuh ke tangan Fernando III pada tahun 1236, masjid ini dijadikan gereja dengan nama santa maria, tetapi dikalangan orang Andalusia lebih popular dengan ia mezquita, berasal dari bahasa arab al-Masjid.

Al-Nashir pada tahun 325 H/ 936 M membangun kota satelit dengan nama salah seorang selirnya al-Zahra. Kemegahannya hamper menyamai al-Qashr al-Kabir. Ia dilengkapi taman indah yang disela-selanya mengalir air dari gunung, danau kecil berisi ikan beraneka warna dan sebuah taman margasatwa. Sementara pada tahun 368 H / 978 M Al Manshur membangun kota Al Zairah dipinggir Wadi Al Kabir, tidak jauh dari Cordova. Al Zahirah dilengkapi dengan taman – taman indah, pasar, toko , masjid dan bangunan umum lainnya.


Analisis Kemajuan Peradaban Andalusia

Salah Satu mengapa Andalusia mengalami kemajuan pesat di dalam peradabannya menurut penulis salah satunya disebabkan policy dari para penguasanya yang mempelopori berbagai kegiatan ilmiah. Meskipun ada ketegangan politik dengan Baghdad timur tapi tidak selalu terjadi konfrontasi militer. Banyak para sarjana Islam dari wilayah Barat menimpa ilmu di Timur dengan membawa bukum teori dan gagasan pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Jadi meskipun umat islam terpecah secara politik tapi tetap dalam bingkai kesatuan budaya dunia Islam. Perpecahan politik pada periode Al Muluk Al Thawa’if tidak menyebabkan mundurnya ilmu pengetahuan dan peradaban, bahkan setiap penguasa di negeri-negeri kecil tersebut saling berkompetensi dalam ilmu pengetahuan terutama usaha untuk menyaingi Cordova.

Sedang aspek kehancuran Andalusia dari berbagai literature menurut penulis disebarkan karena adanya konflik dengan Kristen. Islami yang terjadi kurang sempurna. Kerajaan – kerajaan Kristen taklukan asal tidak melakukan perlawanan militer dibiarkan mempertahankan hukum dan adat mereka, yang pada gilirannya akan menciptakan kubu komunitas berbeda antara Arab Islam dengan Andalusia Kristen yang memicu adanya nasionalisasi. Pada periode kemunduran Islam, kerajaan-kerajaan Kristen ini akhirnya dapat menghimpun kekuatan untuk mengenyahkan Islam dari Andalusia tertama karena kondisi Andalusia yang yang terpencil secara militer, sehingga sulit mendapat bantuan militer kecuali hanya dari Afrika Utara.

Faktor krusial lainnya didalam intern umat Islam telah terdapat perpecahan. Terutama masalah yang berkaitan dengan etnis dan sosial. Sering dijumpai konflik antara komunitas Arab Utara dan Arab Selatan, antara Barbar dengan arab Selatan, antara Barbar dengan Arab serta problem naturalisasi bagi para mukallaf, yang masih dipandang sebelah mata, terutama dengan pemberian term ibad dan muwalladun yang bertedetensi merendahkan. Yang paling fatal lagi adalah tidak adanya mekanisme yang jelas dalam suksesi kepemimpinan. Sehingga sering menimbulkan gejolak politik yang melemahkan Negara.

Dari aspek pengaruh peradaban Andalusia terhadap kebangkitan Eropa (renaissance) adalah dipicu dengan banyaknya kaum terpelajar Eropa yang belajar di pusat-pusat studi di Andalusia sehingga menyerap berbagai gagasan dan pola pemikiran berbagai tokoh pengetahuan seperti Ibnu Rusyd serta berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui terjemahan Arab yang dipelajari, yang kemudian di konversi ke bahasa latin. Yang pada akhirnya mempercepat terjadinya proses reformasi, rasionalisasi hingga pada fase pencerahan di Eropa.


PENUTUP

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Tapi pada abad 10 M dunia Islam mulai menampakkan tanda-tanda kemunduran, begitu juga peradabannya. Kemunduran itu terjadi setapak demi setapak, sehingga pada pertengahan abad ke 12 M , tibalah saatnya masa keruntuhan Islam.

1. http://www.hispanicmuslims.com/andalusia.html
2. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, Cet. Ke 1 , 2007, hlm .227-228
3. Ibid, hlm. 228
4. Ibid,hlm.233-235.
5. P.M.Holt (ed), The Cambridge History Of Islam, Cambridge: Press Syndicate Of The University Of Cambridge, 1970, hlm.406.
6. Ali Shodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004, hlm.79-80.
7. Ibid
8. Ibid, hlm.80 – 81
9. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. ke-1, 1993, hlm.93.
10. Ibid,hlm.94
11. Joesoe Souyb, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997, hlm.9.
12. Badri Yatim, op cit, hlm.95-96
13. Ibid, hlm.96.
14. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004, hlm.120.
15. Badri Yatim, op cit, hlm.99.
16. L,P Harvey, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo Press,1990, hlm.20.
17. Musyrifah Sunanto, op cit, hlm. 122-123.
18. Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999,hlm.598.
19. Ibid
20. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.95-96.
21. Badri Yatim, op cit, hlm.101-103.
22. Philip K Hitti, History Of Arabs, London : MacMillan and Co Ltd,Cet. Ke 10, 1970, hlm.567.
23. Ali Shodiqin dkk, op cit, hlm.84-87.

DAFTAR PUSTAKA
Bullet, Ricard W, Conversion to Islam In The Medieval Period, Massachusetts : President and Fellow Of Harvard College, 1979.
Harvey, L,P, Islamic Spain, Chicago : The University Of Chichgo,1990.
Hitti, Philip K, History Of Arabs, London : Mac Millan and co LTD,Cet. Ke 10, 1970.
Holt,P.M dkk (ed), The Cambridge History Of Islam, New York : Cambridge University Press, 1970.
Karim, Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, CetKe 1 , 2007.
Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet.Ke 1, 1999.
Shodiqin, Ali dkk, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta : LESFI,Cet.Ke 2, 2004.
Souyb, Joesoe, Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova,Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Ke 1, 1997.
Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta : Prenada Media, Cet Ke 2, 2004.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, Cet. Nke-1, 2006.

http://amirulbahri.wordpress.com/2011/08/16/peradaban-islam-masa-bani-umayyah-ii-di-andalusia/

PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH II

KATA PENGANTAR



Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah
SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan makalah dengan judul “Masa Daulah Umayyah II”. Tidak lupa shalawat
dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator
terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih
kepada dosen pebimbing mata kuliah Fiqih yang telah memberikan arahan dan
bimbingan dalam pembuatan makalah ini.



Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas
individu mata kuliah fiqih dan di ajukan sebagai ugas akhir semester. Dalam
makalah ini akan dibahas mengenai masa munculnya Daulah Umayyah II, masa
keemasan dan kejayaannya serta masa runtuhnya daulah ini.



Makalah ini dianjurkan untuk dibaca oleh mahasiswa
sebagai dasar dan pijakan di masa mendatang, seperti ungkapan Bung Karno
“Jadikanlah masa lalu sebagai jas merah”. Makalah ini juga dapat dijadikan
sebagai literatur perbandingan mengenai peristiwa maupun aspek yang melingkupi
tema Masa Daulah Umayyah itu sendiri, hal ini dikarenakan dalam pembuatan
makalah ini berdasar pada berbagai referensi buku-buku mengenai sejarah
perkembangan pada masa Daulah Umayyah II.



Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah
ini yang penuh dengan keterbatasan kekurangan. Dengan segala kerendahan hati,
saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan dari pembaca guna
peningkatan dan perbaikan pada pembuatan makalah mendatang.







Palembang, 23 Desember 2008







Penyusun







PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG



Sering kita mendengar bahwa peristiwa masa lalu bisa dijadikan sebagai jas merah, sebenarnya
maksud dari kata jas merah itu sendiri adalah “jangan sampai melupakan sejarah”.
Apalagi kita sebagai orang Islam dan menuntut ilmu di Universitas Islam
tentunya harus paham akan sejarah kebudayaan islam di masa lalu. Hal ini perlu
agar kita mampu menganalisa dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang
pernah terjadi.



Dalam makalah kali ini akan dibahas mengenai Islam pada masa Daulah Umayyah
II, atau tepatnya Islam di Andalusia. Andalusia yang kita kenal sekarang semula
disebut Vandal yang kemudian oleh bangsa Arab disebut Andalusia. Dan untuk
lebih detailnya tentang perkembangan Islam di Andalusia ini akan diuraikan
dalam bab Pembahasan.



Dengan segala keterbatasan tim penulis, maka dalam makalah ini tidak akan
dijabarkan satu persatu secara rinci, tapi akan dibahas inti dari masa daulah
umayyah II pada waktu itu.







B. RUMUSAN MASALAH



Adapun yang menjadi rumusan masalah sebagaimana tertuang
dalam kata pengantar, meliputi:


Bagaimana kemunculan daulah Umayyah II, serta
cara-cara yang ditempuh hingga daulah Umayyah II ini berdiri?
Masa kejayaan daulah Umayyah, yaitu membahas
mengenai pada masa khalifah siapakah masa kejayaan itu terjadi dan prestasi
apa saja yang pernah diraih?
Runtuhnya daulah Umayyah II, yaitu
menjelaskan sebab-sebab mengapa daulah Umayyah II runtuh?



Demikianlah sedikit gambaran mengenai isi makalah ini
yang tim penulis buat dengan metode literatur kaji pustaka terhadap buku-buku
yang berhubungan dengan tema makalah yang kami buat dan berdasar pada diskusi
yang kami lakukan.



PEMBAHASAN







A.
Berdirinya Daulah Umayyah II



1. Islam masuk di Andalusia



Andalusia yang semula bernama Vandal
pada abad ke-2 sampai ke-5 Masehi merupakan wilayah kekuasaan Romawi, tapi
kemudian ditaklukan oleh bangsa Vandal pada awal abad ke-5 Masehi. Setelah itu
datanglah bangsa Gothia ke Andalusia memerangi bangsa Vandal dan menguasai
Andalusia. Pada Awalnya bangsa Gothia ini kuat sekali tapi kemudian banyak
perpecahan dan menyebabkan kemunduran kerajaan itu.



Kemudian setelah Witiza, raja Gothia meninggal digantikan oleh Roderick.
Kenaikan Roderick ini tidak disukai oleh putra Witiza, dan untuk merebut
kekuasaan mereka bekerja sama dengan Graf Julian yang meminta bantuan pada Musa bin Nushair, gubernur
Muawiyah di Afrika. Musa kemudian minta ijin pada Khalifah walid bin Abdul
Malik yang berkedudukan di Damascus, dan segera dikirmlah pasukan sebanyak 500
orang dibawah pimpinan Tharif bin Malik untuk menyerbu Spanyol. Setelah kemenangan pasukan ini, Musa
mengirimkan pasukan gerak cepat di bawah komando Thariq bin Ziyad, yang kemudian terkenal dengan
selat Gibraltar atau Jabal Thariq.



Mendengar kemenangan Thariq, Musa akhirnya tertarik untuk melakukan
penyerangan terhadap Spanyol. Jika Thariq menaklukan kota bagian barat maka
Musa menaklukan bagian timur seperti Sevilla, Marida, dan Toledo. Dan setelah
keduanya bergabung mereka menaklukan Aragon, Castilia, Katalona, Saragosa dan
Barcelona hingga ke pegunungan Pyrenia. Hingga akhirnya Musa wafat di penjara
akibat korban sepucuk surat.



Setelah jatuhnya wilayah Andalusia ke tangan pemerintahan Daulah Umayyah,
diperkirakan terdapat enam orang gubernur yang bertugas mewakili pemerintahan
Umayyah di Damaskus, mereka adalah:



a. Abdul Aziz bin Musa bin Nushair,
yang berkuasa selama 2 tahun (715-717 M). Pada masa ini dapat dikuasai beberapa
wilayah seperti Evora, Santarem, Cainbra, Malaga, dan Ellira.



b. Ayub bin Habib, pada masa
pemerintahannya Cordova dijadikan sebagai pusat pemerintahan.



c. Al-Harun bin Abdurrahman al-Tsafiqi
(716-719 M)



d. Saman bin Malik Al-Chaulany
(719-721 M)



e. Anbasah (723-726 M), pada masa
pemerintahannya ia berhasil menguasai wilayah Gallia, Setpimia dan terus ke
lembah sungai Rhone.



f. Abdul Rahman al-Ghafiqi (730 M),
pada masa ini ia dapat menguasai Hertongdom dan Aquitania yang termasuk wilayah
kekuasaan Prancis.



2.Pendiri Daulah Umayyah II



Ketika Daulah Abbasiyah berkuasa, banyak pemuka yang mendukung pemerintahan
Daulah Umayyah dan bani Umayyah dikejar-kejar serta ditangkap. Salah seorang
yang selamat dari kejaran para pendukung Daulah Bani Abbas adalah Abdurrrahman. Melalui Palestina dan
Afrika Utara, ia berhasil memasuki wilayah Andalusia. Keberhasilannya tidak
dicapai dengan mudah tetapi melalui usaha yang gigih, karena pada saat itu
Andalusia diperintah oleh Yusuf bin
Abdurrahman al-Fikry. Pada
masanya banyak terjadi pertentangan antara sesama kabilah Arab serta bangsa
Barbar. Pertentangan ini membuka peluang bagi Abdurrahman untuk ikut serta
dalam percaturan politik saat itu, dan ia berhasil memperoleh pengikut yang
banyak



Masuknya Abdurrahman ke wilayah Andalusia membuat Yusuf marah. Ia berusaha
mengusir Abdurrahman dari wilayah kekuasaannya itu. Akibat dari tindakan Yusuf
itu Abdurrahman melakukan perlawanan, sehingga terjadi pertempuran antara
keduanya di dekat Cordova pada tahun
139 H/ 758 M. Peperangan ini dimenangkan oleh Abdurrahman Al-Dakhil,
dengan demikian ia memasuki Cordova dengan membawa kemenangan dan sejak saat
itulah Abdurrahman mendirikan kerajaan
Islam di Andalusia.



Karena keberhasilannya itulah ia
diberi gelar al-Dakhil, artinya orang
yang berhasil memasuki wilayah Andalusia dan selamat dari kejaran pemerintah
Daulah Abbasiyah. Sementara itu, Abu Ja’far al-Manshur memberinya gelar “saqar Quraiys”, artinya rajawali Quraiys yang mampu terbang jauh ke
wilayah Eropa di Andalusia.



3. Masa pemerintahan amir-amir Bani
Umayyah



a. Abdurrahman Al-Dakhil ( 757-788 M )



Setelah
mendirikan kerajaan besar di Andalusia, langkah pertama yang dilakukannya adlah
memperbaiki keadaan dalam negri. Hampir seluruh usianya dipergunakan untuk
memerangi lawan-lawannya seperti ancaman dari Abu Ja’far Al-Manshur
(khalifahAbbasiyah kedua), perlawanan dari raja Frank, Prancis, dan sebagainya.
Setelah dirasa aman barulah Abdurrahman melaksanakan pembangunan demi
kesejahteraan rakyatnya. Diantaranya adalah mendirikan masjid agung di Cordova,
yaitu masjid Al-Hambra dan setelah
beliau wafat pembangunan kemudian dilanjutkan putranya Hisyam I. Abdurrahman
wafat di usianya yang ke-61 dan ia telah memerintah selama kurang lebih 31
tahun lamanya.



b. Hisyam bin Abdurrahman ( 796-822 M )



Ia seorang yang salih dan adil. Dalam
bidang pendidikan ia sangat mengutamakan sehingga lahirlah jabatan hakim (Qadli). Dan di bidang pembangunan ia
menyelesaikan mesjia raya Cordova.



c. Hakam I bin Hisyam ( 796-822 M )



Tabiatnya
sangat berbeda dengan ayahnya, ia suka sekali bermubuat maksiat terhadap
rakyatnya, sehingga banyak terjadi pemberontakan pada saat itu.



d. Abdurrahman II / Al-Ausath ( 822-852 M )



Ia
dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu[1], usaha-usaha
yang dilakukannya pun begitu banyak baik di bidang politik, ekonomi, maupun
pembangunan.



4. Masa
Pemerintahan Khalifah



Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan
Abdurrahman III yang bergelar “An-Nashr” sampai munculnya “raja-raja kelompok”
yang dikenal dengan sebutan Muluk
al-Thawaif.







B.
Masa Kejayaan Daulah Umayyah
II



1.
Perkembangan
Kota dan Seni Bangun


Ketika Al-Dakhil
berkuasa, Cordova menjadi ibu kota
Negara. Ia membangun kembali kota ini dan
memperindahnya, serta membangun benteng di sekeliling kota
dan istananya.Sepeninggal al-Dakhil, Cordova terus berkambang dan menjadi
salah satu kota
terkemuka di dunia.Peninggalan al-Dakhl yang kini masih tegak berdiri
adalah Masjid Jami Cordova.
Pada masa Hisyam
1 dimana ia memugar kembali jembatan tua yang dibangun oleh
al-khaulani, di samping menanbah bangunan-bangunan megah dan taman-taman
yang indah. Pemugaran selanjutnya dilakukan pada masa Al-Mustanshir dan Al-Manshur.
Pada masa Al-Mustanshir
dan Al-Mu’ayyah yang merupakan perkembangan paling pesat yang terjadi
pada saat itu dimana pusat kota yang dikelilingi oleh tembok dengan tujuh
pintu gerbangnya, pada waktu itu sudah berada di tengah, karena
berkembangnya daerah pinggiran di sekitarnya.



Kebanggaan Cordova tidak lengkap tanpa:


Al-Qashr al-Kabir



adalah kota
satelit yang dibangun oleh Ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa orang
penggantinya.


Al-Rushafah



Adalah sebuah istana yang dikelilingi taman
yang luas dan indah, yang dibangun al-Dakhil disebelah barat laut
Cordova.Istana ini mencontoh bentuk istana dan taman Rushafah yang pernah
dibangun oleh nenek moyangnya di Syria.


Masjid Jami’ Cordova
Jembatan Cordova
Al-Zahrar



Dibangun al-nashir di sebuah bukit di
pegunungan Sierra Morena sekitar tiga mil di sebelah utara Cordova.Kemegahan
al-Zahra hampir menyamai al-Qashr al-kabir.Termasuk keistimewaan al-Zahra ialah kolam-kolam marmer buatan konstantinopel
berukir aneka macam bentuk, sebagian diantarannya berlapis emas.



Kecuali membangun al-Zahra, al Nashir
membangun saluran air yang menembus gunung sepanjang 80 km, karena Wadi
al-Kabir yang mengaliri al-Zahra dan Cordova pada musim kemarau airnya tidak
bisa diminum


Al-Zahirah



Dibangun Al-Manshur di pinggir Wadi Al-Kabir,
tidak jauh dari Cordova. Didalamnya dibangun istana besar dan indah tempat
kediaman al-Manshur, gedung-gedung pemerintahan, gudang makanan dan gudang
senjata, tempat tinggal para menteri, perwira militer, dan pegawai tinggi lainnya.
Sebagaimana halnya al-Zahra, al-Zahirah dilengkapi taman-taman indah,
pasar-pasar, took-toko, masjid-masjid, dan bangunan umum lainnya. Perkembangan
al-Zahirah begitu pesat, sehingga pada satu sisinya kemudian bersambung dengan
Cordova, sedang sisinya yang lain bersambung denagn al-Zahra yang dalam
perkembangan selanjutnya telah menjadi bagian depan kota Cordova.



















2.
Perkembangan
Bahasa dan Sastra Arab



Bahasa Arab masuk ke Andalusia
bersamaan dengan masuknya Islam ke daratan itu.Syalibi yang mengutip keterangan
Nicholson menyatakan bahwa pada permulaan abad IX M bahasa arab sudah menjadi
bahasa resmi di Andalusia.



Sejalan
dengan perkembanga bahaAsa arab, berkembang pula kesusastraan Arab yang dalam
arti sempit, disebut adab, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Diantar jenis
prosa adalah khithabnah, tarrasul, maupun karta fiksi lainnya.Menurut Amer
Ali”Orang –arang Arab Andalusia adalah penyair-penyair alam.Mereka menemukan
bermacam jenis puisi, yang kemudian dicontoh oleh orang-orang Kristen di Eropa
selatan.



Diantara
sastrawan terkemuka Andalusia
adalah:


Abu Amr Ahmad ibn Muhammmad ibn Abd Rabbih



Ia menekuni ilmu kedokteran dan musik, tetapi
kecenderungan lebih banyak kepada sastra dan sejarah.Ia semasa dengan empat
orang khalifah Umayyah yang bagi mereka telah ia gubah syair-syair , sehingga
ia memperoleh kedudukan terhormat di istana.


Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid



Baik prosa maupun puisi, hanya beberapa
potong saja yang ditemukan


Ibn Hazm orang penyair sufi yang banyak mengubah
puisi-puisi cinta.Pu



Isi-puisi yang dihimpun dalam antologi
Permata seorang dara, berisi gambaran aspek-aspek percintaan dari pengalamannya
sendiri dan pengalaman orang lain


Muluk al-thawaif dianggap penyair paling besar di Andalusia
pada masa itu



Seirama dengan perkembangan syair, berkembang pula musik
dan seni suara.Hasan Ibn Nafi’ yang lebih dikenal dengan panggialn Ziryab
mempunyai keahlian dalam seni musik dan tarik suara, pengaruhnya masih membekas
sampai sekarang, bahkan dia dianggap peletk dasar dari musik Spantol modern.











3.
Perkembangan
Ilmu Pengetahuan



Pemisahan Andalusia dari Bagdad secara
politis, tidak berpengaruh terhadap transmisi keilmuan dan peradaban antara
keduanya.Banyak muslimi Andalusia yang menuntut Ilmu di negeri Islam belahan
timur itu, dan tidak sedikit pula paa ulama dari timur yang mengembangkan
ilmunya di Andalusia.



Kebanyakan umat Islam menganut paha Maliki
dimana dasar pemikiran hukumnya adalah hadits.Perhatian muslim Andalusia
terhadap hadits Rasulilllah saw amat besar pada waktu itu.Mahzab ini
diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad ibn Abd al-Rahman Ibn Ziyad
al-lahmi.Tokoh lain yang tidak kalah populernya dalam pengembangan ilmu fiqih
ialah Abu Bakar Muhmmad ibn Marwan ibn Zuhr.



Ilmu agama yang berkembang amat pesat adalah
Ilmu Qira’at, yaitu ilmu yang membahas fadh-lafadh Al-Qur’an yang baik dan
benar. Abu Amr al-Dani Utsman ibn Said adalah ulama ahli Qira’at kenamaan dari Andalusia yang mewakili generasinya.



Sejalan dengan perkembangan filsafat,
berkembang pula ilmu-ilmu lain. Ilmu
pasti yang banyak digemari bangsa Arab berpangkal dari buku India Sinbad yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-Fazari.



Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan
filsafat pada masa itu tidak terlepas kaitannya dari kerjasama yang harmonis
antara penguasa, hartawan dan ulama. Umat Islam di Negara-negara Islam pada
masa itu berkeyakinan bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan umumnya,
merupakansalah satu kewajiban pemerinthan.Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan
akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah menimbulkan
hasrat untuk mengadakan perpustakaan-perpustakaan, disamping mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah dan perpustakaan, baik perpustakaan umum
maupun perpustakaan pribadi, banyak dibangun di berbagai penjuru kerajaan,
sejak dari kota-kota besar hingga ke desa-desa.



Andalusia
pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga
hampir tidak ada seorang pun penduduknya
yang buta huruf. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke
negara-negara Eropa Kristen, melalui
kelompok-kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di Universitas
Cordova, Malaga, Granada,
Sevilla atau lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lainnya di Andalusia.







C. Runtuhnya Daulah Umayyah II



Keruntuhan daulah Umayyah II di Andalusia
dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor-faktor tersebut antara lain:



1.
Konflik Islam dengan Kristen



Pada penguasa muslim tidak melakukan
islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti
dari kerejaan – kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka
memperahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal
tidak ada perlawanan bersenjata.Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah
memperkuat rasa kebangsaan orang – orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan
kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan
tentara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan
pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.



2.
Tidak Adanya Ideologi Pemersatu



Kalau di tempat – tempat lain, para
mukalaf diperlakukan sebagai orang islamyang sederajat, di Spanyol, sebagaimana
politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang – orang Arab tidak
pernah menerima orang –orang pribumi. Setidak –tidaknya sampai abad ke-10 M,
mereka msih memberi istilah ‘ibad danmuwalladun kepada para mukalaf, suatu
ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok – kelompok etnis
non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan
dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersrbut. Hal ini menunjukan
tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya
figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.











3.
Kesulitan Ekonomi



Di paruh ke dua masa islam di Spanyol,
para penguasa membangun kota
dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga lalai
membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat membertkan
dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.



4.
Tidak Jelasnya Sistem Peralihan
Kekuasaan



Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan
diantara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan
Muluk Al-Thawif muncul. Granada
yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ketangan
Ferdinan dan Isabella, diantaranya juga disebabkan permasalahan ini.



5.
Keterpencilan



Spanyol Islam bagaikan terpencil dari
dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan
kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang
mampu membendung kebangkitan Kristen
disana.















































KESIMPULAN







Daulah bani Umayyah II didirikan oleh
salah seorang keluarga bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri dari kejaran
orang-orang bani Abbasiyah, yaitu Abdurrahman. Selanjutnya karena kemampuannya
meloloskan diri ke Andalusia dia diberi
julukan “Ad- Dakhil”. Dalam perkembangan selanjutnya daulah Umayyah di
Andalusia meneruskan usaha perluasan wilayah Islam ke beberapa daerah di Eropa.
Bukan hanya usaha perluasan wilayah saja yang mereka lakukan, melainkan juga
pengembangan seni, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa mereka
lakukan karena daulah ini bisa bekerja sama dengan negeri-negeri tetangganya,
termasuk daulah Abbasiyah yang semula menjadi musuh mereka. Letak Andalusia
yang berada di benua Eropa memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan ke
berbagai wilayah Eropa. Sehingga bisa dikatakan kemajuan yang dicapai daulah
Umayyah II hampir sama dengan kemajuan daulah Abbasiyah di Baghdad.



Seperti halnya daulah-daulah Islam yang
dahulu, daulah Umayyah II juga mengalami keruntuhan akibat perebutan kekuasaan.
Meskipun penyebab terburuknya adalah serangan kaum Kristen, namun kondisi umat
Islam di Andalusia saat itu sedang melemah sedangkan kondisi umat Kristen berada
dalam kemajuan yang pesat.










































PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYYAH II

Sumber: http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1630?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem


DAFTAR PUSTAKA







Hassan, Hassan
Ibrahim.1989. Sejarah dan Kebudayaan
Islam. Yogyakarta.



Syalabi, A.
1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid
2. Jakarta: Pustaka Alhusna.



Syalabi, Ahmad. Mausu’ah
al Tarikh al Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Jilid 4, Kairo: Maktabah
Al-Nahdhah Al-Mishriyah, 1979 M

Senin, 06 Agustus 2012

Adele


Adele

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Adele
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Adele

Adele pada tahun 2009
Latar belakang
Nama lahir Adele Laurie Blue Adkins
Lahir 5 Mei 1988 (umur 24)
Tottenham, London Utara, Inggris
Asal West Norwood, London Selatan, Inggris
Genre R&B, soul,[1] pop-blues,
Pekerjaan Penyanyi, penulis lagu
Instrumen Vokal, gitar, piano, bass, celesta, perkusi, kibor
Tahun aktif 2006–sekarang
Label XL, Columbia
Situs resmi adele.tv
Adele Laurie Blue Adkins atau dikenal sebagai Adele (lahir di Tottenham, London, 5 Mei 1988; umur 24 tahun) adalah penyanyi jazz dan soul serta penulis lagu dari Inggris yang memiliki suara kontralto. Sejak album debutnya, 19, Adele telah menerima banyak pengakuan baik secara komersial dan kritis. Album tersebut memulai debutnya di nomor satu dan telah disertifikasi 4x platinum di Inggris. Pada Grammy Awards tahun 2009, Adele memenangkan penghargaan untuk Pendatang Baru Terbaik dan Penampilan Vokal Pop Terbaik.[2][3]
Adele merilis album keduanya, 21 pada tanggal 24 Januari 2011 di Inggris dan 22 Februari di Amerika Serikat.[4][5] Album ini sukses baik secara kritis dan komersial,[6] menjual 208.000 kopi dalam minggu pertama di Inggris dan memulai debutnya pada nomor satu di UK Singles Chart, posisi tersebut berhasil bertahan selama enam belas minggu.[7] Di Inggris, 21 telah disertifikasi 10x Platinum untuk penjualan sebesar 3 juta unit.[8] Album ini memulai debutnya di nomor satu Billboard 200 di Amerika Serikat, menjual 352.000 kopi dalam minggu pertama.[5][9] Album ini berada di nomor satu di tangga lagu 17 negara Eropa dan Amerika Serikat.[10]
Setelah tampil di BRIT Awards, lagu "Someone Like You" mencapai nomor satu di Inggris, sementara album juga menetap di nomor satu. "Someone Like You" memegang posisi nomor satu selama empat minggu berturut-turut.[11][12] Lagu ini juga telah menghabiskan 2 minggu di nomor satu tangga lagu Selandia Baru[13] dan 5 minggu di nomor satu tangga lagu Australia.[14] Official Charts Company mengumumkan bahwa Adele adalah artis hidup pertama yang mencapai prestasi atas lima hits baik di Official Singles Chart dan Official Albums Chart secara bersamaan sejak The Beatles pada 1964.[11][12][15] 21 telah menghabiskan sebelas minggu berturut-turut pada nomor satu di Inggris, terlama dari yang pernah ada oleh artis solo wanita pada UK Albums Chart, melebihi Madonna yang menetap selama sembilan minggu di nomor satu pada tahun 1990 dengan kompilasi hitsnya, The Immaculate Collection.[16] Di Amerika Serikat, album ini telah menghabiskan total sebelas minggu di puncak Billboard 200.[17] Album ini juga memecahkan rekor untuk unduh digital paling laris di Inggris.[18] Pada Mei 2011, penyanyi ini senilai £6 juta, mengikatnya dengan Lily Allen dan Duffy untuk tempat ke-9 pada daftar bintang musik terkaya Inggris dan Irlandia di bawah usia 30.[19]

Daftar isi

Biografi

1988-2005: Kehidupan awal

Adele Laurie Blue Adkins lahir di Tottenham, London, Inggris, dari seorang ibu remaja tunggal pada 5 Mei 1988.[20][21] Dia mulai menyanyi pada usia empat tahun dan menegaskan bahwa dia sangat terobsesi dengan suara.[22][23] Adele telah mengutip Spice Girls sebagai pengaruh utama dalam hal cinta dan gairahnya dalam bermusik, menyatakan bahwa "mereka yang membuat saya seperti sekarang ini."[24]
Pada usia 11, Adele dan ibunya pindah ke West Norwood, London Selatan.[25] West Norwood adalah topik untuk rekaman pertama Adele, "Hometown Glory" yang ditulis ketika usia 16.[26] Setelah pindah ke London Selatan, ia menjadi tertarik dengan penyanyi R&B seperti Aaliyah, Destiny's Child dan Mary J. Blige.[27]

2006-2008: Awal karir

Adele tampil di Kilburn, London pada 2007
Adele lulus dari Brit School di Croydon pada Mei 2006[28][29] yang saat itu sekelas dengan Leona Lewis dan Jessie J.[30][31] Di sekolah, dia lebih tertarik dengan A&R dan berharap untuk meluncurkan karir orang lain.[30] Empat bulan kemudian, Adele menerbitkan dua lagu pada edisi keempat seni online PlatformsMagazine.com.[32] Dia telah merekam tiga demo lagu untuk proyek kelasnya dan memberikannya kepada seorang teman[30] yang memosting ke halaman Myspace. Lagu ini menjadi sangat sukses dan Adele mendapat panggilan dari label musik XL Recordings.[31] Dia meragukan jika tawaran tersebut sungguh-sungguh karena perusahaan rekaman yang dia ketahui hanyalah Virgin Records, lalu dia membawa temannya saat pertemuan rapat.[31][33] Kemudian Adele menandatangani kontrak dengan XL pada bulan September 2006.[34] Lagu terobosan Adele, "Hometown Glory" dirilis pada Oktober 2007.[34]

2008-2010: 19 dan keberhasilan komersial

Adele tampil di Paradiso pada tahun 2008.
19 memasuki nomor satu tangga lagu Inggris. Dia merilis singel kedua "Chasing Pavements" pada 14 Januari 2008, dua minggu menjelang album debutnya, 19. Lagu ini mencapai nomor dua di tangga lagu Inggris dan menetap disana selama empat minggu.[35] Pada bulan Maret 2008, Adele menandatangani kesepakatan dengan Columbia Records dan XL Recordings untuk menggebrak Amerika Serikat.[36] Dia memulai tur singkat di Amerika Utara pada bulan yang sama.[36] Tur dunia An Evening with Adele dimulai pada Mei 2008 dan berakhir pada Juni 2009. Dia kemudian membatalkan tur AS tahun 2008 karena kencannya dengan mantan pacar. Dia mengatakan di majalah Nylon pada Juni 2009, "Saya minum terlalu banyak dan itu merupakan dasar hubungan saya dengan pria ini, saya tidak tahan tanpanya.. Jadi saya seperti, baiklah, oke, Saya akan membatalkan tur saya kemudian... Saya tidak percaya saya melakukan itu ... Tampak seperti tak tahu terima kasih". Pada November 2008 Adele pindah ke Notting Hill setelah meninggalkan rumah ibunya, sebuah langkah yang mendorongnya untuk berhenti minum.[37] 19 dirilis di Amerika Serikat pada bulan Juni,[38][39] tetapi sampai Oktober 2008, tampak jelas upaya Adele untuk untuk mendobrak Amerika telah gagal.[40][41] Adele akan menjadi tamu pada episode tanggal 18 Oktober dari Saturday Night Live (SNL). Program ini memperoleh peringkat terbaik dalam 14 tahun dengan 17 juta pemirsa. Adele menampilkan "Chasing Pavements" dan "Cold Shoulder"[42] dan pada hari berikutnya, 19 langsung menduduki puncak tangga lagu iTunes dan peringkat lima di Amazon.com sementara "Chasing Pavements" naik ke 25 besar.[43] Album ini mencapai nomor 11 di Billboard 200, melompat 35 tempat dari minggu sebelumnya.[44] Album ini bersertifikasi Emas pada Februari 2009 oleh RIAA.[45] Pada bulan Juli 2009, album ini telah terjual 2,2 juta kopi di seluruh dunia.[46]
Pada Grammy Awards ke-51 tahun 2009, Adele memenangkan penghargaan dalam kategori Pendatang Baru Terbaik dan Penampilan Vokal Pop Wanita Terbaik.[2][47] Dia juga dinominasikan dalam kategori Rekaman Terbaik Tahun Ini dan Lagu Terbaik Tahun Ini.[48] Adele juga dinominasikan untuk tiga Brit Awards dalam kategori Best British Female, Best British Breakthrough Act dan Best British Single.[49]
Pada tahun 2010, Adele menerima nominasi Grammy untuk Penampilan Vokal Pop Wanita Terbaik atas "Hometown Glory".[50] Pada bulan April lagu "My Same" memasuki German Singles Chart setelah dinyanyikan oleh Lena Meyer-Landrut di ajang bakat kontes Unser Star für Oslo (Bintang Kami untuk Oslo) saat kontestan Jerman di Kontes Lagu Eurovision 2010 telah ditentukan. Pada akhir September, setelah tampil di The X Factor, "Make You Feel My Love" Bob Dylan versi Adele kembali memasuki nomor 4 UK Singles Chart.

2010-sekarang: 21 dan pemecahan rekor

Adele merilis album studio keduanya, 21, pada tanggal 24 Januari 2011 di Inggris dan 22 Februari di Amerika Serikat.[5][51] Suara album digambarkan sebagai musik klasik, kontemporer dan country. Pemilihan judul mencerminkan pertumbuhan yang telah dialaminya dalam dua tahun terakhir.[51] 21 menjadi hit nomor 1 di 18 negara, termasuk Amerika Serikat.[52] Pada Juni 2011, Adele telah menjual 2,5 juta eksemplar dan 992.000 kopi digital di Amerika Serikat, menjadikannya sebagai album dengan penjualan terbaik di dua kategori rersebut pada paruh pertama tahun 2011.[53] Singel pertama, "Rolling in the Deep" mencapai nomor 1 di 8 negara termasuk Billboard Hot 100.[6][54] Lagu ini telah terjual 4,5 juta kopi digital di Amerika Serikat saja.[53]
Di Inggris, album juga menduduki posisi teratasdengan menjual 208.000 kopi dalam minggu pertama menjadikannya penjualan terlaris dalam lima tahun. Pada pertengahan Februari 2011. setelah penampilan di Brit Awards, lagu "Someone Like You" langsung memuncak di nomor 1 UK Singles Chart, sementara album 21 juga menetap di nomor 1. Menurut Official Charts Company, Adele adalah artis hidup pertama yang mencapai prestasi atas lima hits baik di Official Singles Chart dan Official Albums Chart secara bersamaan sejak The Beatles pada tahun 1964.[55][56] Album ini menghabiskan sebelas minggu berturut-turut di nomor satu, sebelum terlempar dari tempat teratas oleh Wasting Light milik Foo Fighters.[57] Minggu berikutnya, meskipun Adele kembali menempati dan memegang nomor satu selama lima minggu berturut-turut.[58] Pada bulan Juli, singel "Someone Like You" menjadi lagu pertama yang menjual lebih dari satu juta kopi di Inggris dalam dekade ini.[59]
Untuk mempromosikan album ini, Adele memulai tur Adele Live. Pada Agustus 2011, dalam edisi majalah Q, Adele mengungkapkan bahwa dia telah menulis tujuh lagu untuk album berikutnya dan berjanji akan lebih intim dari dua album sebelumnya. "Saya ingin (album) ini terdengar cukup akustik dan didominasi piano. Ini akan menjadi sebuah produksi besar,” katanya seperti dilansir Guardian.co.uk. Adele lalu menambahkan, ia akan meninggalkan warna R&B dan mulai menyelidiki musik country yang ia temukan saat melakukan lawatan Amerika Serikat.[60] Adele mengenang ketika seorang sopir bus memperkenalkan musik country pertama kali kepadanya sewaktu ia melakukan lawatan ke Amerika Serikat untuk album pertamanya, 19 (2008). “Dia memperkenalkan saya semua musik country, blues, gospel dan bluegrass dan saya secara konstan bertanya, ‘Siapa ini? Dari mana ini?’” kisahnya.[60]

Keartisan dan pengaruh

Suara Adele digambarkan sebagai kontralto.[61] Awalnya, para kritikus menyatakan bahwa vokalnya lebih berkembang dan menarik daripada keterampilan menulis lagu, dan Adele setuju dengannya.[62] Album pertama Adele mengambil genre soul dengan lirik yang menggambarkan patah hati dan hubungan.[38] Keberhasilannya terjadi bersamaan dengan beberapa penyanyi soul perempuan dari Inggris lainnya, dengan pers Inggris menjulukinya sebagai Amy Winehouse yang baru.[30] Hal ini digambarkan sebagai Invasi Musik Inggris ketiga di Amerika Serikat.[31] Namun, Adele menyebut perbandingan antara dirinya dan penyanyi soul perempuan lainnya, memberitahu "kita adalah satu gender, bukan satu genre".[38][40][63] Pada awal 2009, pendengar dan kritikus mulai menggambarkan Adele sebagai seorang yang unik. Allmusic menulis bahwa "Adele terlalu ajaib untuk membandingkannya dengan siapa pun."[26] Beyonce Knowles, penyanyi Amerika, mengutip Adele sebagai salah satu pengaruh untuk album keempatnya, 4.[64]
Adele juga mempengaruhi artis amerika Demi Lovato,[65] Demi Lovato Mengatakan "Adele adalah penyanyi terbaik dan Adele menjadi Inspirasi saya di album studio keempat saya".